Mini Album ‘Demi Masa’, Menjadi Wujud Eksistensi dan Eksplorasi Musik Terkini Semiotika

Mini Album ‘Demi Masa’, Menjadi Wujud Eksistensi dan Eksplorasi Musik Terkini Semiotika

Sumber foto : Diambil dari siaran pers Semiotika

Dalam mewujudkan eksplorasi musiknya saat ini, nama seorang Addis Otama Wijaya (Overrage) pun didatangkan sebagai musisi tamu sekaligus sebagai pengisi vokal

Tak pernah meninggalkan ruang sepi akan sajian musik-musik terkini, gairah bermusik dari para musisi/band di lajur independen kembali menghadirkan berbagai kebaruan. Termasuk salah satu trio rock instrumental asal Jambi, Semiotika, yang kali ini kembali hadir lebih eksploratif dengan menghadirkan lirik pada salah satu materi baru yang merangkum mini album terbarunya, bertajuk Demi Masa.

Mini album yang telah beredar sejak akhir bulan April lalu tersebut, dirilis di bawah panji label musik independen, Duniawi Records. Demi Masa menjadi album pembuktian Semiotika untuk dapat berbicara lebih banyak di kancah musik melalui karya-karya terbaru mereka. Dirangkum oleh 3 buah materi segar, mini album ini mengusung cerita tentang waktu.

Untuk pertama kalinya, Semiotika memasukkan unsur lirik kedalam salah satu lagunya yang berjudul “Mengingat Yang Sirna”. Dalam mewujudkan eksplorasi musiknya saat ini, nama seorang Addis Otama Wijaya (Overrage) pun didatangkan sebagai musisi tamu sekaligus sebagai pengisi vokal di lagu “Mengingat Yang Sirna”.

Lagu “Mengingat Yang Sirna” mencoba berbicara tentang tragedi kemanusiaan serius yang sedang terjadi di belahan bumi bagian Timur Tengah. Bagian lirik ditulis oleh Semiotika bersama musisi kolaborator, dan beberapa bagian vokal di lagu ini turut diisi oleh Billy Maulana (Gitar) dan Riri Ferdiansyah (Bass). "Ini merupakan olah rasa dan respon kami sebagai layaknya persatuan umat dan manusia," ujar Riri.

Kemudian, jika berbicara tentang mini album Demi Masa ini secara garis besar. Semiotika menyatakan bahwa mereka ingin menggambarkan waktu dalam bentuk musik di album ini. “Bicara waktu, kita sering merasa kehilangan namun tak pernah secara sadar mencari dan menghargainya. Untuk itu inilah hasil olah musik kami tentang waktu,” ujar Yudhistira Adi Nugraha.

Mengingat pada proses penggarapan karya terbaru Semiotika ini. Proses rekaman mini album Demi Masa dilakukan dirumah yang berbeda secara terpisah-pisah setiap instrumennya, hanya proses take vocal yang dilakukan di studio. Seluruh proses produksi lagu, mulai dari rekaman hingga proses mixing dan mastering audio dikerjakan secara mandiri oleh Semiotika.

Sementara itu, Duniawi Records kembali dipilih sebagai label untuk mendistribusikan mini album terbaru Demi Masa. Ini kali kedua Semiotika dan Duniawi Records bekerja sama setelah sebelumnya pada tahun 2021 mereka merilis album Eulogi. Semiotika juga melibatkan Gamal Istiyanto, seorang Visual Designer dan Filmmaker asal Jambi yang sekarang menetap di Jepang untuk menggarap sampul depan mini album Demi Masa.

Mini album terbaru milik Semiotika, telah dirilis secara resmi pada 20 April 2024 lalu dalam format digital. Demi Masa telah tersedia dan dapat didengar melalui berbagai layanan pemutar musik favorit, seperti Spotify. Silahkan simak melalui tautan di bawah ini.

BACA JUGA - Ciptakan Koneksi 2 Kota, HUSH dan funeruuu Lepaskan EP Kolaborasi

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner